KAMPUNGMU MENANTI ANDA


”Diver-diver internasional sudah banyak yang mendengar khabar bahwa di sekitar Bunaken ada taman laut yang lebih indah, masih virgin, dan bersih, juga terumbu karangnya lebih baik dari yang ada di Taman Bunaken. Ya, tempat itu di sekitar Pulau Biaro,” jelas Moddi.

Tony Supit, SE, MM, Bupati SITARO – sebuah kabupaten di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, dengan lincah dan ramah menerangkan kepada tamu–tamu yang hadir tentang Wilayah dan potensi investasi di daerah kabupaten yang dipimpinnya. Pemaparan dari sang Bupati itu adalah acara utama di “Forum Temu Usaha antar Pemda SITARO dan Pelaku Usaha/Investor” yang diadakan di Quality Hotel Manado awal Oktober lalu. Tony Supit, yang merupakan bupati pertama Kabupaten SITARO pilihan rakyat setempat untuk periode tahun 2008-2013, menjelaskan panjang lebar tentang segala potensi yang dimiliki kabupaten penghasil pala ini. Pria ganteng berusia muda itu terlihat amat enerjik. Ia juga ramah menyambut tamu dan terkesan kuat sebagai seorang pemimpin dan motivator yang baik, mempresentasikan segala potensi yang dimiliki daerahnya.

Potensi Investasi

Berdasarkan uraian Bupati Tony Supit, amat jelas terlihat bahwa terdapat peluang investasi yang amat potensial di Kabupaten SITARO, antara lain di sektor pertanian, kelautan, pertambangan dan pariwisata. Berbagai sumber daya alam yang melimpah di SITARO merupakan modal mendasar bagi wilayah tersebut untuk membangun mensejahterakan rakyatnya. Namun, tentu saja potensi emas tersebut tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada upaya untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan modal dari para investor masuk ke daerah itu baik penanam modal domestik maupun asing.

Bupati SITARO menyampaikan akan mempermudah investor mengurus segala administrasi perijinan usaha di wilayahnya. “Bahkan jika perlu ditiadakan pengurusan ijin operasi perusahan. Juga akan ditempuh kebijakan pajak murah dan penyediaan lahan untuk pelaku investasi,” kata Tony Supit.

Meskipun diakuianya sarana infrasruktur masih minim, namun dia optimis kedepan semua permasalahan itu segera teratasi. Pihak Pemerintah Daerah SITARO akan segera membangun sarana jalan, dermaga, sarana komunikasi dan penambahan transportasi laut. “Kami juga akan membangun bandara perintis di Biaro dan sebagai daerah pemekaran yang otonom. Saya mengundang rekan-rekan investor untuk datang berinvestasi di SITARO.” Demikian salah satu bagian dari sambutan Bupati di hadapan 50-an pengusaha yang hadir, dan mereka sangat tertarik berinvestasi di sana.

Johanes Theodorus (Kok Lok), salah seorang pengusaha ikan dan cool storage asal Manado mengatakan dirinya tertarik berinvestasi di SITARO karena potensi perikanan di sana cukup melimpah dan agak murah tentunya. “Hanya saja pemerintah harus segera memfasilitasi ketersediaan sarana transportasi darat, listrik dan depot BBM bagi nelayan, juga membangun sarana dan prasarana kawasan pelabuhan,” ujarnya.

Secara garis besar, pertemuan yang digagas Pemda SITARO dan pertama kali diadakan ini cukup menarik minat para pelaku usaha dan investor. Mereka yang umumnya berasal dari Bitung, Manado bahkan dari Jakarta tertarik untuk menanamkan modalnya di sana, bahkan beberapa di antaranya akan melakukan survei langsung ke SITARO guna membuktikan presentasi Bupati yang cukup mengundang decak kagum itu.

Sekilas Kabupaten SITARO

SITARO adalah singkatan dari Siau, Tagulandang dan Biaro. SITARO adalah satu kabupaten kepulauan baru hasil pemekaran pada tahun 2007 dari Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Wilayah kepulauan di Kabupaten SITARO terdiri dari tiga gugusan pulau yaitu Pulau Siau, Pulau Tagulandang, serta pulau Biaro dan masing-masing pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jumlah pulaunya sebanyak 47 pulau, terdiri dari 10 pulau berpenghuni dan 37 pulau tidak berpeghuni.

Untuk menuju ibukota Kabupaten SITARO, Ulu Siau dapat dilakukan dengan menggunakan jasa angkutan laut jenis kapal penumpang perintis ditempuh selama 6 hingga8 jam. Jarak yang hanya 85 mil dari Manado menuju Ulu Siau itu bisa juga dicapai dalam waktu 3 jam menggunakan kapal cepat carteran. Hal tersebut cukup mempermudah setiap pelaku usaha dan wisatawan berkunjung ke ibukota SITARO ini.

Meskipun sumbangsih ekspor perikanan laut dari SITARO saat ini mencapai 6000 ton/tahun, namun pemanfaatan sumber perikanan di daerah itu masih tergolong usaha kecil dan tradisional. Padahal potensi perikanannya bisa jauh lebih besar lagi dari capaian selama ini. Untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya kelautan, pemda SITARO berencana melakukan revitalisasi sektor perikanan dan budidaya kelautan lainnya termasuk revitalisi pengembangan budidaya rumput laut. Menurut data dinas perikanan SITARO produksi tangkapan ikan di SITARO mencapai 30-an ribu ton pertahunnya. Sementara budidaya rumput laut, ikan kerapu dan ikan kuwe produksinya hanya berkisar 250 ton di areal 50 hektar. Sementara itu, luas lahan untuk budidaya perairan ini disediakan pemerintah mencapai 500 hektar.

Tanaman Pala merupakan salah satu komoditas andalan masyarakat SITARO. Selain pemasarannya ke berbagai daerah di tanah air, permintaan pasar internasional sangat tinggi. Pembeli luar negeri umumnya amat berminat pada buah pala Sulawesi Utara, khususnya Pala Siau. Eskpor Pala Siau ke sejumlah negara di Asia dan Eropa setiap tahun mencapai 3500 ton. Berdasarkan data Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten SITARO, produksi Pala SITARO pada kurun tahun 2007 mencapai 1,66 juta ton, yang dihasilkan dari lahan tanaman pala 3000-an hektar. Prospek pasaran ekpor pala masih sangat terbuka lebar karena permintaan Pala Siau yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Ibu Sherly Dendeng, seorang expert yang telah malang-melintang selama 30 tahun di dunia ekspor pala mengatakan bahwa perusahanya kewalahan memenuhi permintaan pala ke negeri Cina. ”Buyer saya sudah tahu sih Pala Siau. Mereka umumnya sudah tahu mana Pala Siau dan mana Pala Tonsea. Sementara produksi Pala Siau yang kami dapat masih lebih besar permintaan ekspornya.” tutur Sherly.

Sampai saat ini tanaman pala masih dikembangkan secara tradisional padahal mutunya tetap nomor satu di pasaran dunia. Kekhasan Pala Siau diminati pasar ekpor oleh karena pertumbuhannya di sekitar semburan api dari gunung berapi Karangetan yang kaya akan vulkanis sehingga aroma dan kualitas Pala Siau jauh lebih baik dan khas. Selain pala, SITARO juga menyumbang produksi perkebunan lainya seperti cengkeh, salak dan kelapa yang tidak kalah tinggi kualitasnya.

Pesona Taman Laut Biaro dan Pulau Mahoro

Potensi pariwisata di Kabupaten Kepualuan SITARO cukup menjanjikan. Nama besar Bunaken yang telah kesohor ke berbagai belahan dunia adalah salah satu modal yang harus segera direspon Pemda SITARO. Citra Bunaken itu dapat digunakan untuk memanfaatkan peluang menarik minat wisatawan mancanegara melirik Perairan Biaro dan sekelilingnya sebagai obyek diving dan snorkling. Menurut Moddi Soleman, salah seorang praktisi pariwisata Manado, mengatakan bahwa banyak diver internasional telah mendengar informasi bahwa di seputaran Bunaken ternyata masih ada lokasi yang lebih indah nan eksotis, yakni wilayah perairan laut di sekitar Pulau Biaro yang masih perawan, bersih, bahkan terumbu karangnya lebih baik dari Bunaken.

”Diver-diver internasional sudah banyak yang mendengar khabar bahwa di sekitar Bunaken ada taman laut yang lebih indah, masih virgin, dan bersih, juga terumbu karangnya lebih baik dari yang ada di Taman Bunaken. Ya, tempat itu di sekitar Pulau Biaro,” jelas Moddi. Taman Laut Biaro menyimpan potensi alam luar biasa untuk dikembangkan sebagai obyek wisata laut berkelas dunia.

Selain menyajikan panorama khas kepulauan, Kabupaten SITARO memiliki pulau tak berpenghuni dengan bentangan pasir putih nan menawan, namanya pulau Mahoro. Pulau ini hanya dihuni kelelawar dan burung walet yang mendiami tebing-tebing dan goa-goa. Keadaan tersebut justru menambah eksotisnya panorama Pulau Mahoro. Kawasan pulau ini layak untuk pengembangan kawasan wisata pantai, lokasi diving, snorkling dan fishing sport. Lokasi tersebut amat cocok untuk pembangunan cottage.

Selain Pulau Mahoro, terdapat pula tempat lain yang pas untuk obyek wisata pantai seperti pantai Tanganga yang memiliki tempat pemandian air panas di pesisir pantai bernama pemandian air panas Lehi di kecamatan Siau Barat. Obyek wisata pantai Tanganga ini menyuguhkan keunikan tersendiri bagi wisatawan. Pesona gunung Karangetang bisa pula dinikmati dari perairan di seputaran pulau-pulau Siau sambil menikmati memancing blue marine dan tengiri yang cukup mudah ditemukan di sana. Wilayah Kabupaten SITARO pada hakekatnya menyimpan hamparan panorama bawah laut yang sangat luas dan unik, sungguh potensial untuk dijadikan lokasi diving seperti di Bunaken.

Tawaran Investasi di SITARO

1. Penyediaan sarana transportasi ekspor komoditi Pala ke negara tujuan;
2. Pembangunan pabrik Pala;
3. Penyediaan kapal-kapal penampung ikan;
4. Pembangunan pabrik ikan, pengalengan ikan dan pabrik es;
5. Budidaya terumbu karang dan rumput laut;
6. Pembangunan kawasan wisata pantai, diving-snorkling, fishing sport dan cottage di pulau Biaro, Mahoro, Buhias dan pulau-pulau lainnya yang berpenghuni maupun tidak berpenghuni;
7. Peluang penambahan sarana transportasi laut rute Manado-Siau-Tahuna-Ambon-Philipine;
8. Peluang penyediaan pelayaran kapal feri;
9. Peluang pengembangan sarana IT (sekolah kejuruan, internet, wartel); dan
10. Investasi sektor informal.

Beberapa hal penting yang menjadi daya tarik tersendiri untuk berinvestasi di Kabupaten kepulauan SITARO menurut Bupati Tony Supit adalah jaminan keamanan, jarak tempuh dari Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara relatif dekat dan Pemda SITARO akan mempermudah pengurusan ijin usaha termasuk penyediaan lahan bagi investor. ”Sebagai sebuah kabupaten kepulauan yang baru, SITARO layak untuk dilirik investor. Kami akan dengan senang hati menerima semua tamu yang berkunjung ke SITARO. Ke depan, kami akan menyajikan informasi terkini guna mempermudah investor dari seluruh dunia mendapatkan informasi tentang potensi dan peluang investasi di SITARO lewat website,” urai Tony Supit. (Fredy Tewu)