PUTERI LOHORAUNG(Cerita Rakyat Tagulandang)


Pada kurang lebih empat ratus tahun yang lalu lalu terjadi sebuah peristiwa yang tidak terduga: suatu badai puting beliung melanda wilayah Tagulandang dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit di kalangan penduduk, terutama di bagian Selatan dan Tenggara kepulauan ini. Badai tersebut terjadi ketika angin musim Selatan bertiup.

Setelah badai telah berlalu, seorang petani desa Tulusan yang sudah berusia lanjut bernama Makahiking pergi ke kebun. Ayunan langkahnya cukup cepat, sehingga tak lama kemudian ia telah tiba di kebun, betapa terkejutnya ketika ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kerusakan yang telah ditimbulkan oleh amukan angin topan itu. Ia lalu mulai membereskan kebunnya. Salah satunya adalah sebuah pohon yang rubuh dan melintang di tengah kebunnya.

Makahiking sangat terkejut sebab di hadapannya tampak sesosok tubuh yang putih mulus berada di tengah rerimbunan daun pohon tumbang itu. Ia menggosok-gosokkan matanya untuk lebih meyakinkan penglihatannya, namun semakin digosok dan dikedip-kedipkan penglihatannya itu, justru semakin nyata dan semakin meyakinkannya bahwa dirinya bukan sedang bermimpi namun tetap berada di alam nyata dan sedang berhadapan dengan seorang putri yang berusia remaja di pagi subuh itu.

Sekejap timbul keraguannya. Jangan-jangan Sang Putri merupakan penjelmaan makhluk halus penghuni hutan yang berwajah peri cantik dan sengaja menampakkan diri di hadapannya untuk membawa suatu isyarat atau suatu pertanda baik atau buruk dalam kehidupan pribadi dan keluarganya.

Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, terdengarlah suatu suara yang lemah dan bernada memelas di antara isakan tangis dari sang putri : “Ia ko wawine, natuntung bou Pulisang, nawawa su anging mangkilaeng” (Saya seorang wanita, datang dari Pulisang, terbawa angin badai semalam). Itulah ucapan pertama sang puteri yang memperkenalkan asal-usul tempatnya namun tidak langsung memperkenalkan namanya. Makahiking yakin bahwa sang putri yang berada di depannya itu tidak berbusana dan hanya tertutup atau terbungkus dengan daun-daun pohon yang rubuh itu.

Sebagai orang tua yang arif dan memiliki moral yang tinggi, tanpa berkata sepata kata pun Makahiking pulang ke rumahnya memanggil isterinya dan membawa pakaian untuk dipakaikan kepada putri cantik yang ditemukannya di kebun. Dipanggilnya juga beberapa penduduk setempat untuk menyaksikan putri temuannya itu.

Kemudian putri tersebut ke rumah mereka dan diangkat sebagai anak kandung sendiri. Makahiking bersama istrinya sangat bahagia dengan kehadiran putri tersebut di dalam rumah tangga mereka. Putri itu dipanggil dengan sapaan kesayangan LOHORAUNG sebab ditemukan di tengah dedaunan pohon (dalam bahasa setempat : Maraloho su Raung yang berarti ditemukan di antara dedaunan pohon).

Beberapa waktu kemudian, setelah semua kehidupan telah kembali normal, berkumpulah para tokoh masyarakat dan semua Wahaning Wanua (Pemberani/Pejuang Negeri) antara lain Walandungo, Wansiani, Lahawuateng. Mereka bermusyawarah, mengambil prakarsa dan bersepakat untuk menjadikan MANDOLOKANG TAGULANDANG sebagai sebuah wilayah kerajaan sendiri yang kedaulatannya diakui oleh raja-raja sekitar. Dan karena kesaktian para Wahaning Wanua ini, seluruh penduduk negeri menyetujui gagasan itu. Sebelum pelaksanaan musyawarah ini, kekuasaan di pulau Tagulandang berada di tangan para Pemberani Negeri, masing-masing sesuai dengan asal kampungnya.

Dan pada kesepakatan itu juga Putri Lohoraung diangkat sebagai Raja Perempuan atau Ratu kerajaan MANDOLOKANG TAGULANDANG sejak tahun 1570 dan memerintah selama 39 tahun. Dengan Walondungo sebagai Panglima Perangnya, yang sangat berjasa dalam mempersatukan dan mempertahankan keutuhan kerajaan yang meliputi Tagulandang, Talise, Bangka, dan Lembe. Ratu Lohoraung wafat dan dimakamkan di desa Tulusan yang pada waktu itu berstatus sebagai ibukota kerajaan.

Demikian kisah Putri Lohoraung yang berasal dari tanjung Pulisang (ujung Utara pulau Sulawesi).

(Sumber : BUKU CERITERA RAKYAT KECAMATAN TAGULANDANG, Editor : Ch. O. Bingku. Penilik Kebudayaan 1976-2001. Adaptasi Teks oleh : Rahadih Gedoan)
Artikel Budaya